Kebaikan yang Pamrih?

Saya ingat betul kenangan – kenangan pahit di masa lalu. Sebagai peninggalan berharga untuk saya dan keluarga menjalani masa depan. Saya ingat, ketika alm. bapak saya jatuh dari kursi kejayaannya. Rumah kami yang tadinya besar lengkap dengan mobil-mobilnya, kini berganti menjadi sebuah kontrakan berkamar satu yang dihuni oleh 4 orang : bapak, mama, saya, dan kakak sepupu saya. Tanpa kendaraan.

Dulu saat alm. bapak saya jaya, banyak orang beliau kuliahin. Bukan dimarahin-diceramahin panjang lebar ya, literally kuliah. Alm. bapak saya orang yang “hobi” belajar. Dan suka sama orang2 yang mau belajar juga. Mungkin beliau tahu rasanya bersekolah sulit dan muahal. Beliau juga seseorang yang percaya bahwa kebaikan yang ia tebar pada orang lain akan kembali padanya dalam bentuk kebaikan juga.

Tapi ada 1 kasus yang mengganggu benak saya dari kecil sampai sekarang. Alm. bapak sempat dibantu dana sama seseorang yang diberikan pekerjaan, masih keluarga juga. Saya ga tahu ini sifatnya pinjaman atau bagaimana. Saya juga ga tahu nilainya berapa, dan untuk apa digunakannya.

Saat ayah saya meninggal, si abang ini bilang ke mama saya (pada saat acara pemakaman) “ingat-ingat dulu beliau pakai uang saya sekian juta”.. Mama saya yang lagi kalut jadi meledak-ledak emosinya. Pertanyaan saya : perlukah mengungkit-ungkit kebaikan di depan orang lain? Meskipun saya pribadi ga tahu maksud pernyataannya untuk menagih dana itu atau bukan. Yang jelas, hidupnya lebih makmur dibanding keluarga saya saat itu.

Hal yang sama pun terulang kembali dengan diri saya sendiri. Di saat anak saya lahir dan perlu pasang alat bantu pernapasan, saya pernah berniat meminjam dana kepada seorang rekan. Dikasih, sih.. Tapi katanya itu bukan uang pribadi, melainkan sumbangan dari rekan-rekan yang lain. Yang saya tahu, sumbangan sukarela ga seperti pinjaman yang harus dikembalikan. CMIIW ya..

Singkat cerita, sekarang anak saya sudah besar nih. Yaa namanya saya juga pekerja, karyawan di sebuah perusahaan. Saya hanya menjalankan kebijakan perusahaan, meskipun bagi beberapa orang yang “nyeleneh”, saya itu kebangetan. Hari ini nih, di  saya kembali diingatkan dengan pernyataan “ibu masih ingat saya kan di ICU”. Pertanyaan saya sama : perlukah mengungkit-ungkit kebaikan (di depan orang lain)?

Sebut saya lebay, baper, dan lain2. Tapi saya merasa terluka. Apakah iya kesembuhan anak saya bergantung pada bantuan dana yang ia berikan? Selain ia, saya juga menerima bantuan dari orang lain di perusahaan saya. Bahkan tanpa saya minta, beliau menawarkan. Terlepas dari keperluan anak saya saat sakit, hal lainnya pun beliau bantu. Jadi perlukah mengungkit-ungkit kebaikan?

Saya bukan seorang yang ahli akidah, ahli agama, atau apapun karena itu saya mencari tahu akan hal ini. Menurut muslim.or.id, ada 3 perbuatan penghapus pahala. Yaitu al mann (menyebut-nyebut pemberian sedekah), al adzaa (menyakiti orang yang diberi sedekah), dan ar riyaa’ (menampakkan amalnya kepada orang lain agar dapat pujian). Lengkapnya baca di webnya aja ya..

Pelajaran yang saya ambil hari ini : jika Allah kelak mengizinkan saya menjadi orang yang sukses, saya tidak perlu mengungkit2 yang sudah saya berikan. Saya takut melukai perasaan orang2. Meskipun apa yang sudah saya berikan tidaklah besar, mungkin tidak bermanfaat besar, mungkin tidak mencukupi, ketahuilah : no need to pay back. Bersikaplah biasa pada saya. Karena seperti kata alm. ayah saya : kita manusia hanya perpanjangan Tangan Tuhan. Pertolongan Tuhan datang melalui orang lain. Jadi bersyukurlah pada Tuhan. Dan kembalikanlah kebaikan itu melalui cara yang baik pula kepada Tuhan. Ini beneran kata alm. ayah saya ya. Makasih udah baca uneg2 saya. Saya udah lega.. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s