Product Review : Garnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Mask

Menu baru di devysworld nih.. Product Review, yeahh 😀

Ini sebenarnya pucuk dicinta ulam pun tiba ya.. Di saat ngaca dan banyak dikomentari sana-sini akibat warna kulit wajah ga terawat, nemu lah produk ini di Yukcoba.In.

Sebenarnya saya termasuk orang yang ga terlalu ngoyo banget punya kulit wajah yang putih. Tapi karena “dukungan” orang-orang kantor rasanya jadi pingin transformasi. Hehehe.. Kebetulan sejak punya baby saya memang ga punya banyak waktu buat merawat wajah. Mau itu maskeran, facial, bahkan sampai pake sunscreen pun ga sempat. Baru menghadap kaca, Baby-G udah nongkrongin manjaah. Apalagi kalo kelamaan pakai baju & dandan, tangisannya macam pungguk merindukan bulan. Hehehe lebai dikit..

Jadi begitu dapat #YukcobainChallenge, saya senang karena bisa sedikit memperhatikan kondisi wajah. Namanya aja udah sleeping mask. Berarti pakainya malem dong yaa. Mari kita bahas satu per satu.

 Kemasan

 

Seperti biasa, produk Garnier itu boxnya cantik2. Ini warnanya kuning gradasi biru di mana kuningnya merujuk ke kandungan lemon dalam mask-nya dan biru sebagai pertanda digunakan malam hari. Tube nya sendiri didominasi warna kuning, mirip dengan Garnier Light Complete Day Cream. Tapi berbeda dengan pelembab Garnier Pure Active saya, ujung tube nya melancip dan lubangnya cukup kecil sehingga cream yang keluar tidak belepotan dan mengotori tutup ulirnya. Kalau dilihat dari penampakannya agak mirip salep obat mata ya. Oiya, boxnya juga terdapat pengukur shade kulit. Jadi bisa membandingkan sebelum dan sesudah pemakaian sleeping mask, naik berapa tingkat sih kecerahan kulit kita. Kulit saya emm, entah di nomor berapa.. 🙂 Baca lebih lanjut

Drama Menyusui

Sejujurnya ini latepost banget. Setelah setahun menyusui Baby-G, saya sadar bahwa saya sama sekali ga punya banyak pengetahuan tentang mengASIhi. Meskipun udah mantengin Grup FB AIMI, kemaren2 saya masih belum bisa mempraktekkan banyak hal yang diajarkan di situ. Sampai tulisan ini dibuat, Baby-G masih mix ASI & susu lainnya. Menyesal? Sedikit. Setidaknya sampai hari ini, saya masih bisa mengASIhi Baby-G tanpa membiarkannya kelaparan.

Ketika Baby-G lahir, meskipun banyak yang mendukung ASI, mental saya tetap dijatuhkan. Bahkan dijadikan guyonan bahwa ASI saya “banjir” saking sedikitnya oleh orang yang saya anggap sepuh sekalipun. Apalagi kondisi pak suami yang tidak meyakini adanya baby blues.  Iya lho, saya kena baby blues. Gegara Baby-G kena Pneumonia Neonatus saat itu. Penyebabnya dari bakteri pada kulit. Ga tau deh kulit saya atau kulit bidan2 yang VT saat itu. Habis pembukaan lengkap & ga bisa lahir normal, saya cukup lama ditangani secara caesar. Rentang waktu sejam ada kali. Biasalah, urusan administrasi & tanda tangan. Juga orang-orang di ruang operasi yang lagi telpon-telponan padahal saya udah ngeden2 mau ngelahirin.. *abaikan* Yang jelas saya masih belum bisa melupakan. Masih suka sedih kalau inget itu.

Stress berminggu-minggu, males minum, ga tau kalo “beneran” harus banyak makan, bikin pasokan ASI saya ga mencukupi buat Baby-G. Saya akui, saya males memerah ASI. Jujur saya ga tau kalau harus sampai se-kekeuh itu. Saya ga tau apakah ini karena kekurang telatenan saya atau memang karena saya punya riwayat PCOS – beberapa ibu yang kena PCOS kurang memproduksi hormon agar ASI mencukupi kebutuhan bayi, menurut saya lho ini. Saya ga pernah periksa. Masih trauma ke RS waktu itu.

Jadi kesimpulannya, sebagai reminder buat saya sendiri di kemudian hari supaya ASI cukup (kalau bisa melimpah, ya Alhamdulillah): Baca lebih lanjut