Cerdas Menggunakan Obat Generik

Saya rasa banyak orang setuju bahwa tuntutan pekerjaan membuat kita lupa untuk menjaga kesehatan. Dan bila sudah terkena suatu penyakit, barulah kita menyadari betapa berharganya kesehatan. Ada ungkapan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Tetapi bila sudah terkena penyakit, apa yang dapat kita lakukan selain mengobati bukan?

Berbicara tentang kesehatan, mengingatkan saya kepada almarhum ayah saya. Ayah saya adalah seorang perokok aktif, gemar mengonsumsi makanan berlemak, dan seorang yang gemar bekerja hingga larut malam. Saya yang belum mengerti bahwa kebiasaan itu tidak baik, merasa bahwa keadaan ayah saya akan baik – baik saja. Sampai pada akhirnya ayah saya terkena penyakit jantung dan darah tinggi. Saat itu saya baru lulus SMA. Niat untuk melanjutkan kuliah pun tergadaikan demi mengobati penyakit ayah.

Memang benar, untuk mengobati darah tinggi dan penumpukan lemak pada pembuluh darah jantung yang ayah alami membutuhkan biaya yang cukup besar. Kondisi ayah yang demikian menghabiskan banyak biaya. Tak sedikit barang – barang kami yang terjual demi mengobati penyakit ayah. Untunglah setelah itu saya mendapat pekerjaan di sebuah jaringan apotek terkemuka di Indonesia. Dari situlah saya mengerti beragam jenis dan merk obat yang biasa digunakan para dokter untuk mengobati ayah.

Saya mengerti bahwa ada tiga macam obat yang beredar di apotek tempat saya bekerja (dan di seluruh Indonesia). Berikut yang dapat saya jelaskan:

– Yang pertama kami sebut Obat Paten , yaitu obat – obatan import dengan merk dagang luar negeri. Harganya tergolong mahal karena obat tersebut baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun.

– Yang kedua kami sebut obat “Me-Too” atau obat generik bermerk. Obat ini merupakan obat paten yang habis masa patennya sehingga dipasarkan dengan menggunakan merk dagang dari perusahaan farmasi yang membuatnya.

-Dan yang terakhir adalah obat generik berlogo atau biasa disingkat OGB. Obat generik berlogo juga merupakan obat – obatan yang telah habis masa patennya sehingga dapat diprodusi oleh perusaan farmasi tanpa diharuskan membayar royalti. Biasanya OGB dipasarkan tanpa merk dagang, tetapi hanya menggunakan nama kandungan obat dan dosisnya. Dikemas dengan desain sederhana tetapi tetap menjaga keutuhan dan kualitas obat. Misalnya Ciprofloxacin 500 mg, Loratadine 10 mg, Cetirizine 10 mg, dan lain sebagainya.

Saya senang sekali mengetahui bahwa banyak hal yang dapat saya pelajari selama bekerja di apotek tersebut. Kembali ke penyakit ayah saya. Karena penyakit jantung yang dideritanya, ayah saya tak bisa lagi bekerja seperti biasa. Mau tak mau, saya berlaku sebagai tulang punggung keluarga. Namun terus terang, obat – obatan yang diresepkan oleh dokter jantung, selalu merogoh kantong dalam jumlah yang besar. Kendati demikian, saya berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhan pengobatan ayah saya.

Selama tiga bulan pertama, saya masih bisa memenuhi semua obat – obatan yang diresepkan dokter  untuk ayah. Namun pernah suatu ketika, saya tersangkut dengan sebuah musibah lain yang mengharuskan saya mengeluarkan uang banyak di luar biaya pengobatan ayah saya. Dalam keadaan putus asa, saya mencoba berunding dengan ayah. Saya akan mencoba untuk mengganti obat-obatan ayah saya dengan obat generik. Akan tetapi ayah saya terkenal sangat teguh pendiriannya. Sekali resep dokter, ya resep dokter. Tidak peduli kenyataan bahwa kandungan obat generik dan obat paten itu sama. Tak peduli pula bahwa saya tak mampu membelikan obat paten untuk ayah. Tak peduli bahwa mutu obat tetap terjamin. Sejujurnya saya merasa sedih. Saat itu saya merasa tak mampu memenuhi pengobatan ayah saya. Pada akhirnya ayah mengalah. Bukan mengalah untuk kemudian membeli OGB, tetapi mengalah untuk memangkas biaya yang akan saya keluarkan untuk pengobatannya. Yang tadinya obat – obatan itu diresepkan untuk penggunaan satu bulan, oleh ayah saya hanya dibeli setengahnya saja. Saya tahu bahwa tindakan ini tidak benar, tetapi ayah bersikeras untuk menjalankan rencananya daripada harus menggunakan OGB.

Bulan – bulan berikutnya, kondisi keuangan sudah mulai stabil. Saya kembali membiayai pengobatan ayah saya seperti biasa. Tetapi ayah saya masih menebus obatnya dalam jumlah setengah dari resep. Bahkan ayah berani untuk tidak menebus obat diuretiknya, karena dirasa obat tersebut “tidak diperlukan” demi memangkas biaya. Saya pun berusaha menjelaskan kembali bahwa lebih baik membeli obat dalam versi generik ketimbang harus memangkas obat – obatan yang seharusnya membantu penyembuhan. Ayah saya kembali bersikeras bahwa OGB tidak sama dengan obat – obatan yang diresepkan dokter. Hal ini terus berlanjut hingga pada akhirnya, ayah saya meninggal akibat serangan jantung.

Hal serupa terjadi dengan pasien – pasien yang menebusresep di apotek tempat saya bekerja. Pernah suatu ketika, seorang ibu yang menderita infeksi jamur terperanjat ketika melihat angka – angka fantastis yang rekan saya sebutkan di meja kasir. Rupanya ia tidak mampu untuk membeli obat tersebut. Saya pun keluar dan menjelaskan bahwa obat generik pun sama baiknya dalam mengobati infeksi jamur yang ia derita. Namun ibu tersebut menampik penjelasan saya kemudian melenggang keluar apotek dengan wajah putus asa. Entah apa kabarnya ibu itu sekarang, namun saya harap ia dapat menyadari keberadaan obat generik yang lebih mudah ia dapatkan ketimbang obat paten.

Lain halnya dengan seorang ibu yang membeli obat penyakit jantung untuk suaminya. Memang dari penampilannya, ia terlihat berkelas. Akan tetapi obat yang ia perlukan pada saat itu tidak tersedia karena masalah pengiriman. Saya berusaha menawarkan obat generik. Tetapi ia mengira saya merendahkan. “Saya orang mampu, Bu. Saya masih sanggup membeli obat mahal ketimbang generik.” Jawabnya kala itu.

Saya pribadi lebih suka menggunakan obat – obatan generik. Seperti halnya beberapa hari lalu, saat saya berobat ke dokter tentang alergi yang tidak kunjung sembuh. Saya diresepkan obat anti histamin (merk paten tentunya) dan obat golongan kortikosteroid untuk mengatasi peradangan pada kulit saya. Akan tetapi pada saat menebus resepnya di apotek, saya minta pada apotekernya untuk mengganti dengan generik saja. Selain karena alasan ekonomis, saya yakin bahwa obat generik sama baiknya dengan obat paten. Dilihat dari kandungan obatnya pun sama, apa lagi yang harus saya takutkan?

Namun tak dapat dipungkiri bahwa penggunaan OGB masih dianggap sebelah mata oleh kebanyakan pasien. Kenapa? Jawabannya bisa beragam. Berikut alasan yang saya temui:

– Pasien takut menggunakan OGB karena beredar anggapan bahwa OGB tidak dibuat berdasarkan riset oleh perusahaan farmasi yang membuatnya

– Tanpa merk dagang yang jelas, pasien tak yakin dengan pertanggungjawaban perusahaan farmasi yang membuat OGB

– Pasien terlalu terpaku pada merk dagang yang tertera pada resep dokter

– Harga yang murah membuat pasien merasa bahwa khasiat obat tidak sama dengan obat paten yang harganya mahal. Dan masih beragam anggapan yang salah yang beredar di masyarakat.

Sebenarnya perlu Anda ketahui bahwa OGB memiliki banyak keuntungan, di antaranya :

1. Dibandingkan dengan harga obat paten yang merogoh kocek tebal, OGB  memiliki harga yang lebih murah dan dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.

2. Komposisi yang tepat dan sesuai untuk berbagai penyakit yang diderita pasien. Dan tersedia dalam kemasan yang baik.

3. Kualitas mutu yang sama dengan obat paten. Dan tentu saja OGB sudah melewati uji bioavailabilitas dan bioekivalensi, sehingga tidak perlu diragukan keampuhannya dalam mengobati penyakit.

Sebagai bahan pengetahuan, Uji Bioavailabilitas/ketersediaan hayati (BA) melingkupi rate yaitu kecepatan zat aktif dari produk obat yang diserap di dalam tubuh ke sistem peredaran darah dan extent yaitu besarnya jumlah zat aktif dari produk obat yang dapat masuk ke sistem peredaran darah), sehingga zat aktif dalam obat tersedia pada tempat kerjanya untuk menimbulkan efek terapi atau penyembuhan yang diinginkan.

Sedangkan Uji Bioekivalensi/kesetaraan biologi (BE) merujuk kepada tidak adanya perbedaan secara bermakna pada rate dan extent zat aktif dari dua produk obat yang memiliki kesetaraan farmasetik, misalnya antara tablet A yang merupakan produk obat uji dan tablet B yang merupakan produk inovator, sehingga menjadi tersedia pada tempat kerja obat ketika keduanya diberikan dalam dosis zat aktif yang sama dan dalam desain studi yang tepat.

Sebenarnya tujuan dari pemerintah memasarkan OGB ini adalah agar kesejahteraan dalam bidang kesehatan dapat dicapai secara merata ke semua lapisan masyarakat. Saat ini OGB dapat diperoleh dengan mudah di apotek – apotek besar maupun apotek rakyat. Di Puskesmas, pasien pun di berikan obat generik.

Masih ada oknum yang tidak menawarkan obat generik, atau menempatkan obat generik sebagai pilihan terakhir dengan alasan menarik penghasilan sebanyak – banyaknya. Ini jelas tidak sejalan dengan tujuan pemerintah. Dan saya rasa, ini tidak adil bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Sebagai pasien, mendapatkan obat generik adalah hak kita. Sebagaimana tercantum dalam U No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen telah menguraikan apa yang menjadi hak-hak seorang pasien, antara lain:

1. Hak untuk informasi yang benar, jelas dan jujur.
2. Hak untuk jaminan kemanan dan keselamatan.
3. Hak untuk ganti rugi.
4. Hak untuk memilih.
5. Hak untuk didengar.
6. Hak untuk mendapatkan advokasi.
7. Hak-hak yang diatur oleh perundang-undangan.

Jadilah bijak saat berobat ke dokter. Jabarkan keluhan atau gejala – gejala penyakit yang Anda rasakan kepada dokter terkait. Bersikaplah kooperatif dengan dokter yang memeriksa kesehatan Anda. Tanyakan perihal obat yang diresepkan kepada Anda. Apabila Anda tidak berkenan dengan obat tersebut, Anda berhak untuk mendapat obat generik.

Iklan

2 thoughts on “Cerdas Menggunakan Obat Generik

  1. andri berkata:

    sore …
    mbak / ibu ?
    saya bru baca artikel anda .
    menarik + informatif sesuai bidang anda …
    2 thn lagi , asuransi kesehatan saya wes abis / selesai ,
    u/ itu … saya mulai hunting informasi ttg obat generik pengganti obat paten .
    1 alasan klasik yg saya bawa … mahal .
    jika tidak keberatan , tolong info’kan ke saya ,
    ttg pengganti obat2n dokter tsb ke obat generik .
    dokter konsultan saya jg keberatan ttg penggantian tsb ,
    namun beliau mau ngerti ttg alasan saya ttg harus ganti tsb … dompet .
    namun beliau jujur , tidak mau memberi resep obat generik
    karena ga dapat komisi dari pabrik / sales farmasi obat tsb .
    saya dminta cari sendiri …
    wadoh ?
    saya wes dpasang stent 6 pcs .
    yg awal = 4 stent ,
    yg k2 = 2 stent … total 6 stent .
    thn 2010 + 2011 .
    ini , yg saya minum … sd hr ini :
    ascardia 180 mg
    cpg 75 mg
    imdur
    lipitor 20 mg
    lipanthyl supra
    triatec 10 mg
    lipitor dan lipanthyl , minum gantian krn emank ga boleh bareng tho ?
    ntar sgpt + sgot isa jebol …
    nach …
    sesuai dgn harapan saya , apakah anda berkenan mberi informasi
    ttg obat pengganti’nya , yg generik ?
    u/ merk , saya tidak mpmasalahkan krn itu tdk urgent tho ?
    yg urgent adl isi’ne …
    dmk …
    terima kasih .
    saya tunggu d email origami.by.andri@gmail.com ya
    tq .
    sie sie
    nuwun .
    trim’s .
    camsia .

    andri .
    semarang
    kamis
    06 agustus 2015

    • devysworld berkata:

      Bapak Andri

      Untuk pengganti obat paten menjadi generic, sebenarnya mudah dilihat dari kemasan obat yang bapak minum. Karena biasanya obat generik tidak dijual menggunakan nama dagang, tetapi langsung nama kandungan obat beserta dosisnya.

      Misalnya Ascardia 180 mg komposisinya Acetylsalicylic acid / asam salisilat 180 mg

      Nah untuk generiknya, obat2 tersebut dijual hanya dengan nama komposisi obatnya. Yang membedakan hanya produsennya, apakah OGB Dexa ataupun produsen lainnya. Akan tetapi perlu diingat bahwa tidak semua obat sudah ada generiknya. Ada yang lebih murah, tetap bermerk dengan produsen dalam negeri namun dengan kualitas yang sama. Akan tetapi saya tentu tidak bisa mengingat semua merk obat yang ada. Saran saya, silakan bapak membeli buku MIMS untuk mengetahui opsi merk lainnya. Atau konsultasikan di apoteker terdekat. Semoga jawaban saya membantu 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s