Product Review : Oriflame Colourbox Lipstick

Ga sampai 1 bulan udah review lipstick lagi.. Hehe. Lagi jadi lipstick junkie, nih. Ternyata banyak banget warna warni lipstick yang selama ini saya abaikan. Oiya kebetulan beberapa minggu yang lalu Oriflame lagi promo buy 1 get 1 lipstick Colourbox-nya.

I’m sorry for playing safe dengan memilih shade Soft Coral & Shimmering Caramel. Soalnya kalau warna-warna bold, saya belum berani pakai tiap hari. Di kantor yang cowok-cowoknya seolah jarang melihat wanita berlipstick, merah cabe atau orange bahkan gold itu rasanya gonjreng abis. Haha.. Males dikomentari sebenarnya.. Oke lanjut.

Baca lebih lanjut

Product Review : Kippabuw Tinted Lip Balm

Akhirnyaaaa… Kesampaian juga beli tinted lip balm handmade lokal.. Kali ini saya pilih Kippabuw Choco Blood Tinted Lip Balm.

Dari dulu saya paling ga suka pakai lipstick. Karena aromanya yang ‘kimia’ banget ataupun karena ingredientsnya menurut saya menyeramkan. Selagi hamil pun, saya paling anti pakai kosmetik. Kalau di kantor juga males berdandan ria. Pe-er banget gitu kayaknya! Tapi akhir-akhir ini tergugah buat beli lipstik handmade yang ga pakai pengawet. Boleh cek di webnya Kippabuw. Di sana tertera ingredientsnya hanya shea butter, beeswax dan skin safe pigment. Saya percaya bahwa makin sedikit bahan kimia yang tertera di suatu produk, maka lebih baik bagi kesehatan saya. Eitss, tapi ga menutup kemungkinan saya tetap memakai lipstik drugstore maupun merk lainnya yang bukan handmade ya. Baca lebih lanjut

Product Review : Garnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Mask

Menu baru di devysworld nih.. Product Review, yeahh 😀

Ini sebenarnya pucuk dicinta ulam pun tiba ya.. Di saat ngaca dan banyak dikomentari sana-sini akibat warna kulit wajah ga terawat, nemu lah produk ini di Yukcoba.In.

Sebenarnya saya termasuk orang yang ga terlalu ngoyo banget punya kulit wajah yang putih. Tapi karena “dukungan” orang-orang kantor rasanya jadi pingin transformasi. Hehehe.. Kebetulan sejak punya baby saya memang ga punya banyak waktu buat merawat wajah. Mau itu maskeran, facial, bahkan sampai pake sunscreen pun ga sempat. Baru menghadap kaca, Ghifa udah nongkrongin manjaah. Apalagi kalo kelamaan pakai baju & dandan, tangisannya macam pungguk merindukan bulan. Hehehe lebai dikit..

Jadi begitu dapat #YukcobainChallenge, saya senang karena bisa sedikit memperhatikan kondisi wajah. Namanya aja udah sleeping mask. Berarti pakainya malem dong yaa. Mari kita bahas satu per satu.

 Kemasan

Seperti biasa, produk Garnier itu boxnya cantik2. Ini warnanya kuning gradasi biru di mana kuningnya merujuk ke kandungan lemon dalam mask-nya dan biru sebagai pertanda digunakan malam hari. Tube nya sendiri didominasi warna kuning, mirip dengan Garnier Light Complete Day Cream. Tapi berbeda dengan pelembab Garnier Pure Active saya, ujung tube nya melancip dan lubangnya cukup kecil sehingga cream yang keluar tidak belepotan dan mengotori tutup ulirnya. Kalau dilihat dari penampakannya agak mirip salep obat mata ya. Oiya, boxnya juga terdapat pengukur shade kulit. Jadi bisa membandingkan sebelum dan sesudah pemakaian sleeping mask, naik berapa tingkat sih kecerahan kulit kita. Kulit saya emm, entah di nomor berapa.. 🙂 Baca lebih lanjut

Drama Menyusui

Sejujurnya ini latepost banget. Setelah setahun menyusui Ghifa, saya sadar bahwa saya sama sekali ga punya banyak pengetahuan tentang mengASIhi. Meskipun udah mantengin Grup FB AIMI, kemaren2 saya masih belum bisa mempraktekkan banyak hal yang diajarkan di situ. Sampai tulisan ini dibuat, Ghifa masih mix ASI & susu lainnya. Menyesal? Sedikit. Setidaknya sampai hari ini, saya masih bisa mengASIhi Ghifa tanpa membiarkannya kelaparan.

Ketika Ghifa lahir, meskipun banyak yang mendukung ASI, mental saya tetap dijatuhkan. Bahkan dijadikan guyonan bahwa ASI saya “banjir” saking sedikitnya oleh orang yang saya anggap sepuh sekalipun. Apalagi kondisi pak suami yang tidak meyakini adanya baby blues.  Iya lho, saya kena baby blues. Gegara Ghifa kena Pneumonia Neonatus saat itu. Penyebabnya dari bakteri pada kulit. Ga tau deh kulit saya atau kulit bidan2 yang VT saat itu. Habis pembukaan lengkap & ga bisa lahir normal, saya cukup lama ditangani secara caesar. Rentang waktu sejam ada kali. Biasalah, urusan administrasi & tanda tangan. Juga orang-orang di ruang operasi yang lagi telpon-telponan padahal saya udah ngeden2 mau ngelahirin.. *abaikan* Yang jelas saya masih belum bisa melupakan. Masih suka sedih kalau inget itu.

Stress berminggu-minggu, males minum, ga tau kalo “beneran” harus banyak makan, bikin pasokan ASI saya ga mencukupi buat Ghifa. Saya akui, saya males memerah ASI. Jujur saya ga tau kalau harus sampai se-kekeuh itu. Saya ga tau apakah ini karena kekurang telatenan saya atau memang karena saya punya riwayat PCOS – beberapa ibu yang kena PCOS kurang memproduksi hormon agar ASI mencukupi kebutuhan bayi, menurut saya lho ini. Saya ga pernah periksa. Masih trauma ke RS waktu itu.

Jadi kesimpulannya, sebagai reminder buat saya sendiri di kemudian hari supaya ASI cukup (kalau bisa melimpah, ya Alhamdulillah): Baca lebih lanjut

Kebaikan yang Pamrih?

Saya ingat betul kenangan – kenangan pahit di masa lalu. Sebagai peninggalan berharga untuk saya dan keluarga menjalani masa depan. Saya ingat, ketika alm. bapak saya jatuh dari kursi kejayaannya. Rumah kami yang tadinya besar lengkap dengan mobil-mobilnya, kini berganti menjadi sebuah kontrakan berkamar satu yang dihuni oleh 4 orang : bapak, mama, saya, dan kakak sepupu saya. Tanpa kendaraan.

Dulu saat alm. bapak saya jaya, banyak orang beliau kuliahin. Bukan dimarahin-diceramahin panjang lebar ya, literally kuliah. Alm. bapak saya orang yang “hobi” belajar. Dan suka sama orang2 yang mau belajar juga. Mungkin beliau tahu rasanya bersekolah sulit dan muahal. Beliau juga seseorang yang percaya bahwa kebaikan yang ia tebar pada orang lain akan kembali padanya dalam bentuk kebaikan juga.

Tapi ada 1 kasus yang mengganggu benak saya dari kecil sampai sekarang. Alm. bapak sempat dibantu dana sama seseorang yang diberikan pekerjaan, masih keluarga juga. Saya ga tahu ini sifatnya pinjaman atau bagaimana. Saya juga ga tahu nilainya berapa, dan untuk apa digunakannya.

Saat ayah saya meninggal, si abang ini bilang ke mama saya (pada saat acara pemakaman) “ingat-ingat dulu beliau pakai uang saya sekian juta”.. Mama saya yang lagi kalut jadi meledak-ledak emosinya. Pertanyaan saya : perlukah mengungkit-ungkit kebaikan di depan orang lain? Meskipun saya pribadi ga tahu maksud pernyataannya untuk menagih dana itu atau bukan. Yang jelas, hidupnya lebih makmur dibanding keluarga saya saat itu.

Hal yang sama pun terulang kembali dengan diri saya sendiri. Di saat anak saya lahir dan perlu pasang alat bantu pernapasan, saya pernah berniat meminjam dana kepada seorang rekan. Dikasih, sih.. Tapi katanya itu bukan uang pribadi, melainkan sumbangan dari rekan-rekan yang lain. Yang saya tahu, sumbangan sukarela ga seperti pinjaman yang harus dikembalikan. CMIIW ya..

Singkat cerita, sekarang anak saya sudah besar nih. Yaa namanya saya juga pekerja, karyawan di sebuah perusahaan. Saya hanya menjalankan kebijakan perusahaan, meskipun bagi beberapa orang yang “nyeleneh”, saya itu kebangetan. Hari ini nih, di  saya kembali diingatkan dengan pernyataan “ibu masih ingat saya kan di ICU”. Pertanyaan saya sama : perlukah mengungkit-ungkit kebaikan (di depan orang lain)?

Sebut saya lebay, baper, dan lain2. Tapi saya merasa terluka. Apakah iya kesembuhan anak saya bergantung pada bantuan dana yang ia berikan? Selain ia, saya juga menerima bantuan dari orang lain di perusahaan saya. Bahkan tanpa saya minta, beliau menawarkan. Terlepas dari keperluan anak saya saat sakit, hal lainnya pun beliau bantu. Jadi perlukah mengungkit-ungkit kebaikan?

Saya bukan seorang yang ahli akidah, ahli agama, atau apapun karena itu saya mencari tahu akan hal ini. Menurut muslim.or.id, ada 3 perbuatan penghapus pahala. Yaitu al mann (menyebut-nyebut pemberian sedekah), al adzaa (menyakiti orang yang diberi sedekah), dan ar riyaa’ (menampakkan amalnya kepada orang lain agar dapat pujian). Lengkapnya baca di webnya aja ya..

Pelajaran yang saya ambil hari ini : jika Allah kelak mengizinkan saya menjadi orang yang sukses, saya tidak perlu mengungkit2 yang sudah saya berikan. Saya takut melukai perasaan orang2. Meskipun apa yang sudah saya berikan tidaklah besar, mungkin tidak bermanfaat besar, mungkin tidak mencukupi, ketahuilah : no need to pay back. Bersikaplah biasa pada saya. Karena seperti kata alm. ayah saya : kita manusia hanya perpanjangan Tangan Tuhan. Pertolongan Tuhan datang melalui orang lain. Jadi bersyukurlah pada Tuhan. Dan kembalikanlah kebaikan itu melalui cara yang baik pula kepada Tuhan. Ini beneran kata alm. ayah saya ya. Makasih udah baca uneg2 saya. Saya udah lega.. 🙂

Campak pada Bayi

It’s been 11 months sejak Ghifa lahir. Kebetulan kantor bikin acara gathering ke Purwokerto. Hari yang ditunggu-tunggu banget. Kapan lagi liburan dibayarin. #EmakEmakGaMauRugi Hehehe… Sebenarnya dari Januari saya sudah “berasa” dalam hati. Tapi yaa bapaknya pasti berkerut mukanya kalau diceritain firasat macam tu. Eh bener aja. Rencana pergi hari Sabtu tanggal 25 Maret, anaknya demam sejak 23 Maret malamnya. Ya Allah Gusti.. Dikasih firasat kuat banget sebagai ibu. Cek ke bidan ga ada radang, mungkin karena lagi tumbuh gigi. Iyess, gigi atas Ghifa lagi muncul sekaligus dua. Alhamdulillah hari Sabtu paginya udah reda. Sempat kuatir sih, tapi keinginan bapak & omanya untuk jalan-jalan ternyata lebih kuat, akhirnya kami berangkat juga.

Selama di Purwokerto, Ghifa sama sekali ga menunjukkan gejala demam atau lesu. Masih pecicilan ke sana sini, masih mau makan, masih mau nyusu. Cumaa ya entah kenapa jadi manjaah sama saya. Which is masih agak baru klo anak ini manja sama ibunya. Biasanya kan yang dikejar-kejar, ditangisin ya bapaknya.

Kami pulang tanggal 28 Maret dan kondisi Ghifa pun masih baik-baik aja. Laluu Rabu malamnya itulah yang bikin panik. Setengah 4 pagi saya kaget saat menyusui Ghifa. Nih anak koq panas yah? Langsung deh ukur termometer. Masih di ambang batas bawah 37,6 derCel. Untung masih punya penurun demam di rumah. Kamis pagi saya masih berangkat seperti biasa. Seharian perasaan ga tenang. WA kakak ipar ga dijawab-jawab. Ternyata Ghifa masih demam & rewel. Meski masih tetep pecicilan & masih mau makan *GoodBoy 🙂

To be honest, saya kuatir Ghifa kena DBD. Buibu pasti pada paham dong siklus pelana kuda khas DBD?  Ghifa udah demam selama 2 hari, turun selama di Purwokerto dan sekarang demam lagi. Dan yang bikin panik, jam 21.30 suhu tubuh Ghifa mencapai 39,2 derCel. Dikasih penurun demam ga turun-turun, Ya Gusti Allah… Kuat-kuat ya Nak 😥 Saya cuma kuatir dia kejang demam. Maklum mahmud (mamah muda) lagi parno gegara anaknya rekan sejawat kejang demam di kereta pas mau ke Purwokerto kemaren. Tapi alhamdulillah, Ghifa baik-baik aja. Cuma yaa persis bapaknya kalau sakit, maunya tidur aja. Di tahap inilah Ghifa ga mau minum apa-apa. Cuma mau nyusu sama saya aja dan ga mau lepas sama sekali. Baca lebih lanjut

Akhirnya Kena Sinusitis Juga

Sabtu malam, 28 Januari 2017, saya pikir akan jadi hari libur menyenangkan bersama Ghifa & Bapak. Ternyata saya salah.. Sudah seminggu kena flu berat yang kata admin saya di Bali, seperti habis digebukin, ditambah malam itu telinga terasa penuh dan sakit. Rasa-rasanya mirip kejadian seperti dulu, but much worse. Sakit deh! Bikin pusing, bikin jalan oleng, bikin sakit gigi juga.

Dibawa tidur enakan, tapi kalau sudah beraktifitas seperti biasa, wassalam deh. Suara-suara yang tadinya stereo macam tangisannya Ghifa udah ga kedengeran lagi. Minggu mau berobat ke mana? Dokter ga ada. Kalo ke dokter umum saya pasti kurang puas sama jawabannya.

Seninnya, saya meluncur daftar dokter THT di Klinik Nidea. Jam 19.00 prakteknya. Tapi jam 18.00 ditelponin dokternya lagi operasi & ga jadi datang. Okeeeiii, saya beralih ke RS. Bhakti Asih. Sama praktek jam 19.00 juga, tapii dokternya sakit. Emang ga boleh berobat hari ini kali ya… *pengen nangis* Akhirnya bertahan cuma minum anti nyeri & kompres anget-dingin gantian. Paringono sabaaar, Gustiii…

Selasa malam nekad, daftar ke yang lebih jauh dari rumah, ke RS. Mulya. Ini udah pasrah, kalo dokternya ga ada lagi, saya bakal nunggu Kamis buat periksa ke RS. Medika Lestari yang deketan. Lama? Biarin. Eh tapi memang Allah ridho nya saya berobat sama dr.Gustav, akhirnya ketemu lagi di RS ini. Ternyata beliau praktek di RS. Mulya sekarang. Thank God. Bukannya apa-apa ya, saya salah satu tipikal orang yg lebih seneng “ngejar” dokter ketimbang RS, sama seperti waktu lahiran dulu ngejar di mana dr. Andri berada. Secara beliau2 ini sudah tau history pengobatan saya sebelumnya. Baca lebih lanjut